Jumat, 14 Juni 2013

kuda sumbawa dan kandungan susu kuda liar sumbawa



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Populasi ternak di Indonesia mengalami  kenaikan, tetapi ada beberapa jenis ternak yang mengalami penurunan. Kuda merupakan salah satu ternak yang mengalami penurunan populasi. Penurunan populasi ini terjadi karena fungsi kuda sebagai alat transportasi telah banyak digantikan oleh kendaraan bermotor, selain tingginya angka pemotongan kuda sebagai sumber pangan. Angka pemotongan kuda sebagai sumber daging di Indonesia cukup tinggi. Penurunan populasi kuda ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, di Amerika Serikat sampai tahun 1960 juga mengalami penurunan populasi kuda, karena terjadi mekanisasi dalam bidang transportasi dan pertanian. Kemudian populasi kuda mengalami  kenaikan  setelah  terjadi peningkatan kegiatan olahraga dan rekreasi  menggunakan kuda (CUNHA, 1991). Peranan kuda di masyarakat antara lain sebagai sumber pangan, alat transportasi, olah raga atau rekrasi, untuk pertanian, dan untuk perang.
Selama ini Kabupaten Sumbawa telah dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ternak di Indonesia. Selain bertani, kegiatan memelihara ternak besar seperti kerbau, sapi dan kuda merupakan kegiatan yang menonjol dalam masyarakat Sumbawa.  Perkembangan peternakan di Kabupaten Sumbawa telah mampu menghasilkan ternak bibit dan ternak potong yang dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan sebagian dikirim ke daerah lain.  Dari hasil peternakan selain meningkatkan taraf hidup peternak, juga memberi kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sumbawa melalui pajak dan retribusi ternak.  Pada tahun 2006 sumbangan PAD dari  sektor peternakan sejumlah Rp.765.902.100,- (Laporan Tahunan Dinas Peternakan Kabupaten Sumbawa Tahun 2006).
B.     Rumusan Masalah
      Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut:
      1.      Apa itu kuda Sumbawa?
      2.      Apa kandungan susu kuda liar Sumbawa?
C.    Tujuan
      Adapun tujuannya adalah sebagai berikut:
      1.      Untuk mengetahui tentang kuda Sumbawa
      2.      Untuk mengetahui kandungan susu kuda liar Sumbawa
BAB II
PEMBAHASAN
  A.    Kuda Sumbawa
       1.      Asal – usul kuda Sumbawa
 Kuda merupakan salah satu jenis ternak besar yang termasuk hewan herbivora non ruminansia. Ternak ini bersifat nomadic, kuat, dan mampu berjalan sejauh 16 km dalam sehari untuk mencari makan dan air (Kilgour dan Dalton, 1984).
                  Blakely dan Bade (1991) menyatakan bahwa klasifikasi zoologis kuda adalah:
Kingdom         : Animalia (hewan)
Phylum            : Chordata (bertulang belakang)
Class                : Mammalia (menyusui)
Ordo                : Perissodactyla (berteracak tidak memamahbiak)
Family              : Equidae
Genus               : Equus
Spesies            : Equus caballus
Kuda hidup berkelompok dan sering kali membentuk sebuah keluarga yang terdiri atas satu pejantan, satu atau beberapa betina dan keturunannya. Kelompok jantan muda biasanya membentuk kelompok yang terdiri atas satu hingga delapan jantan muda. Kuda jantan yang memimpin dan menguasai sekelompok betina, akan melindungi kuda betina dewasa yang merupakan bagian kelompoknya dari gangguan kuda jantan lain khususnya selama masa estrus. Kuda berkomunikasi dengan cara mengeluarkan suara, menggerakan tubuhnya seperti ekor, telinga, mulut, kepala, dan leher atau mengeluarkan bau yang berasal dari kotorannya untuk menandakan teritori. Kuda memiliki indera penciuman dan penden garan yang kuat (Kilgour dan Dalton, 1984).
Kuda Sumbawa adalah kuda yang diduga berasal dari Kuda Sumba yang di bawa ke Pulau Sumbawa dan beranak-pinak beradaptasi dengan lingkungan akhirnya berkembang seperti sekarang. Kuda yang terkenal sebagai penghasil susu. Susu yang dihasilkan oleh kuda Sumbawa dikenal dengan kualitas yang tinggi serta mempunyai manfaat dalam kesehatan. Kuda Sumbawa merupakan salah satu bangsa kuda yang digunakan sebagai bibit kuda.
Pemanfaatan  kuda  merupakan  salah  satu  cara  untuk  menghemat  waktu. Beberapa  kuda  saat  ini  digunakan  untuk  menangani  ternak  dan  dalam  kegiatan penebangan.  Banyak  kuda  digunakan  untuk  kesenangan  berkuda  oleh  orang-orang dari  segala  usia.  Beberapa  kuda  digunakan  dalam  parade  dimana  penampilannya sangat penting. Kuda sangat penting dalam olahraga, seperti pacuan kuda, rodeo dan polo.
Ternak  kuda  selain  dapat  digunakan  untuk  konsumsi  masyarakat  (daging kuda  dan  air  susu),  kuda  juga  dapat  dimanfaatkan  untuk  berperang,  untuk  olahraga dan  rekreasi,  keperluan  pertanian  secara  luas  dan  untuk  alat  pengangkutan. Kepemilikan ternak kuda juga dapat memberikan status sosial yang lebih tinggi bagi pemiliknya (Parakkasi, 1986).
Bogart  dan  Taylor  (1977)  menambahkan,  beberapa  istilah  digunakan  oleh orang-orang  yang  bekerja  dengan  kuda.  Kuda  jantan  yang  digunakan  untuk pembibitan  disebut  stallion.  Gelding  yaitu  kuda  jantan  yang  dikebiri  sebelum mencapai kematangan seksual. Kuda betina muda disebut filly dan kuda jantan muda disebut colt, keduanya disebut dengan foal. Kuda betina dewasa disebut mare. Kuda  yang  didomestikasi  diharapkan  dapat  hidup  hingga  25  tahun,  untuk kuda  dialam  bebas  tentu  berumur  kurang  dari  itu.  Kuda  berkembang  sangat  baik sejak  dilahirkan  ke  dunia. Dalam  waktu  24  jam  sejak  lahir,  anak  kuda  dialam  harus mampu berpacu dengan ternak lain untuk bertahan hidup. Anak kuda telah memiliki kaki  (panjangnya  hampir  sama  dengan  kuda  dewasa)  dan  naluri  untuk  bangkit  dan mulai  bergerak  segera  setelah  lahir.  Selama  bulan  pertama  hidup,  tinggi  anak  kuda meningkat  sekitar  sepertiga. Pada  akhir  tahun  pertama,  tingginya  mencapai  tiga-perempat  dari  tinggi  kuda  dewasa.  Setelah  penyapihan,  selama  sekitar  enam  bulan didomestikasi  dan  sedikit  demi  sedikit  dibawa  ke  alam  liar,  kuda  muda  disebut weanling.
1.      Pakan
Pakan yang biasanya dikonsumsi oleh kuda adalah hijauan dan konsentrat. Hijauan merupakan pakan dengan kandungan serat tinggi. Hijauan dapat berupa rumput dan legum. Konsentrat adalah campuran pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18% dan tinggi protein. Komposisi hijauan dan konsentrat yang diberikan pada kuda dapat bervariasi. Kuda dapat mengkonsumsi hijauan untuk hidup pokoknya sebanyak 1,502% bobot badan dan konsentrat sebanyak 0,5% bobot badan (Mansyur, 2006).
2.      Hijauan
Hijauan mempunyai arti yang penting dalam makanan kuda. Performa yang dihasilkan kuda akan seiring dengan kualitas hijauan. Hijauan berkualitas baik akan menghasilkan performa kuda yang baik pula. Hijauan yang bagus tentunya tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai sumber protein, vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya.
3.      Konsentrat
Pakan utama kuda adalah rumput. Pakan rumput hanya cukup untuk kelangsungan hidup tetapi untuk kuda pacu atau olahraga perlu tambahan konsentrat dan vitamin. Pakan konsentrat merupakan pakan sumber energi bagi kuda. Konsentrat yang dapat diberikan antara lain konsentrat serealia yang terdiri atas gandum, jagung, sorgum, berbagai produk sereal dan non sereal yang terdiri atas gula bit, legum seperti kedelai dan kacang.
2.      Susu kuda liar Sumbawa
1.      Asal – usul susu kuda
Menurut Hermawati (2005), susu kuda sejak lama telah dikonsumsi oleh masyarakat di daerah Asia Tenggara, Mongolia, Eropa Timur, dan Rusia. Susu kuda umumnya dikonsumsi dalam bentuk susu fermentasi sebagai minuman sehari-hari maupun untuk pengobatan. Buckle et al (1978) mengemukakan bahwa susu mengandung semua zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup anak mamalia. Zat-zat gizi tersebut diantaranya adalah lemak, protein, karbohidrat (laktosa), vitamin, mineral, dan air. Komponen dan karakteristik zat gizi dalam susu memungkinkan zat gizi susu mudah diserap oleh tubuh.
2.      Perbedaan susu kuda dengan susu hewan ternak lainnya dan susu manusia (ASI)
Terdapat perbedaan antara kadar lemak, protein, gula, abu dan air pada komposisi susu dari beberapa hewan ternak dan manusia. Kadar lemak susu kuda sebesar 1,59 persen; kadar lemak susu sapi sebesar 3,90 persen; sedangkan kadar lemak susu manusia sebesar 3,80 persen (Tabel 1). Hal ini menunjukkan bahwa kadar lemak susu kuda lebih rendah dibanding susu sapi maupun susu manusia sehingga susu kuda relatif tidak menyebabkan kegemukan.
Tabel 1. Komposisi Kandungan Zat Gizi pada Susu Kuda, Susu Hewan Ternak Lain dan Susu Manusia
Jenis
Lemak (%)
Protein (%)
Laktosa (%)
Abu (%)
Air (%)
Kambing
4,09
3,71
4,20
0,79
87,81
Ikan Paus
22,24
11,90
1,79
1,66
63,00
Kelinci
13,60
12,95
2,40
2,55
68,50
Kerbau
7,40
4,74
4,64
0,78
82,44
Kuda
1,59
2,00
6,14
0,41
89,86
Domba
8,28
5,44
4,78
0,90
80,60
Anjing Laut
54,20
12,00
-
0,53
34,00
Sapi
3,90
3,40
4,80
0,72
87,10
Manusia
3,80
1,20
7,00
0,21
87,60

Sumber: Buckle et al (1978)
3.      Keunggulan kuda Sumbawa
Susu kuda memiliki nilai energi lebih rendah dibandingkan susu sapi maupun air susu ibu (ASI). Seratus gram susu kuda, susu sapi, dan ASI mengandung energi sebesar 44, 64, dan 70 kkal. Hal tersebut sangat menguntungkan bagi orang yang berdiet rendah kalori.
Susu kuda lebih cocok diberikan pada bayi dibandingkan susu sapi karena kemiripan komposisi zat gizi susu kuda dengan ASI. Susu sapi segar tidak cocok bagi bayi karena kandungan casein-nya tinggi dan akan menggumpal di dalam perut bayi sehingga sulit dicerna. Selain itu, proses fermentasi pada susu kuda adalah mengubah laktosa menjadi asam. Dalam proses itu, terjadi perubahan komponen menjadi asam lemak yang berfungsi melancarkan pencernaan. Proses fermentasi juga menghindari penggumpalan protein.
Menurut peneliti utama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Departemen Kesehatan Indonesia, Dr. Hermana MSc. APU. (2001), susu kuda termasuk susu kuda Sumbawa, lebih cocok dikonsumsi bayi karena komposisi kandungan gizinya sangat mendekati ASI. Selain itu, susu kuda Sumbawa memiliki banyak kandungan gizi sehingga terbukti mampu menjaga stamina dan kesehatan jasmani (Tabel 2).
Tabel 2. Kandungan Gizi Susu Kuda Sumbawa Per 100 Gram
Jenis Kandungan Gizi
Kadar (dalam gram)
Protein
2,26000
Lemak
1,68000
Laktosa
4,31000
Ca
0,11400
Vitamin C
0,13500
Fe
0,00064
Provitamin A
0,69000
Protein Kasein
1,30000
Protein Whey
1,20000
Sumber: Hermawati (2009)
Selain dikenal sebagai minuman kesehatan, susu kuda Sumbawa juga sangat dikenal sebagai obat alternatif karena berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit seperti penyakit saluran pencernaan, maag, asam urat, diabetes, lever, ginjal, tuberculosis (TBC), anemia, radang paru-paru dan kanker. Permintaan akan khasiat tersebut cenderung meningkat seiring peningkatan jumlah penderita TBC di Indonesia. Menurut data dari World Health Organization (2009), Indonesia menempati posisi ketiga terbesar di dunia setelah India dan China, dengan angka insiden sebesar 107 per 100 ribu penduduk.
Selain itu, keunggulan lain dari susu kuda Sumbawa adalah aktivitas antimikrobanya yang kuat, dan tidak ditemukan pada susu kuda bukan Sumbawa dan susu sapi. Susu kuda pacu turunan kuda Sumbawa masih mempunyai aktivitas antimikroba meskipun lebih lemah daripada susu kuda Sumbawa murni. Susu kuda Sumbawa mengandung senyawa antimikroba alami galaktoferin yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri sehingga tidak menggumpal atau rusak. Meskipun tanpa pengawetan, susu kuda Sumbawa dapat bertahan disimpan pada suhu kamar selama lima bulan (Hermawati 2004).
4.      Keunggulan susu kuda Sumbawa dibanding susu kuda pacu
Susu kuda Sumbawa memiliki beberapa kelebihan antara lain kadar lemak yang lebih rendah, kadar protein yang lebih tinggi, dan kadar antimikroba yang lebih tinggi dibandingkan susu kuda pacu. Kadar lemak susu kuda Sumbawa sebesar 1,68 persen; sedangkan susu kuda pacu memiliki kadar lemak yang lebih tinggi sebesar 2,0 persen. Kadar protein susu kuda Sumbawa sebesar 2,26 persen; sedangkan kadar protein susu kuda pacu lebih sedikit sebesar 1,70 persen. Selain itu,  kadar antimikroba susu kuda Sumbawa berada dalam rentang 14-23 mm; sedangkan susu kuda pacu memiliki kadar antimikroba yang lebih sedikit yakni 12,4-13,37 mm (Tabel 3). Perbedaan komposisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas susu kuda Sumbawa terbukti lebih unggul dibandingkan susu kuda pacu.
Tabel 3. Komposisi dan Sifat Susu Kuda Sumbawa dan Susu Kuda Pacu
Komposisi
Susu Kuda Sumbawa
Susu Kuda Pacu
Kadar Lemak (persen)
1,68
2,0
Kadar Protein (persen)
2,26
1,70
Kadar Laktosa (persen)
4,31
5,80
Bahan kering tanpa lemak (persen)
8,75
8,40
Kadar abu (persen)
0,41
1,15
pH
2,73 – 4,28
7,00
Antimikroba (mm)
14 – 23
12,4 – 13,37

Sumber : Hermawati et al (2005)
Susu kuda Sumbawa berwarna putih, aroma khas, encer, dan rasanya asam. Rasa asam pada susu kuda Sumbawa bukan karena pembusukan. Sekurang-kurangnya ada lima faktor yang bisa mempercepat proses pembusukan susu segar, yaitu cara pemerahan yang tidak higienis, kontainer susu dari jerigen plastik yang digunakan tidak steril, proses penampungan sampai mencapai volume yang cukup untuk dikirim memerlukan waktu yang lama dalam temperatur kamar, jarak tempuh dari tempat pemerahan maupun tempat penampungan sampai ke tempat pengemasan yang sangat jauh, dan fluktuasi temperatur yang sangat tinggi dari sejak pemerahan sampai ke tempat pengemasan. Namun kenyataannya susu kuda Sumbawa yang telah melalui kelima faktor tersebut tetap tidak busuk dan hanya mengalami penurunan pH yang cukup signifikan. Hal ini menunjukkan adanya suatu senyawa anti pembusukan di dalam susu kuda tersebut yang ada hubungannya dengan bakteri pembentuk asam yang biasa disebut dengan bakteri asam laktat (Riyadh 2003). Susu kuda Sumbawa mengalami autofermentasi sehingga pH-nya rendah dan membuat rasanya sangat asam (Hermawati 2004).
Susu merupakan minuman bergizi tinggi yang dihasilkan ternak perah menyusui, seperti sapi perah, kambing  perah, atau bahkan kerbau perah. Susu sangat mudah rusak dan tidak tahan lama di simpan  kecuali telah mengalami perlakuan khusus. Susu segar  yang dibiarkan di kandang selama beberapa waktu, maka  lemak susu  akan  menggumpal di permukaan berupa krim susu, kemudian bakteri perusak susu yang bertebaran di udara kandang, yang berasal dari sapi masuk ke dalam susu dan berkembang biak dengan cepat. Oleh bakteri, gula susu di ubah menjadi asam yang mengakibatkan susu berubah rasa menjadi   asam. Lama kelamaan susu yang demikian itu sudah rusak. Kombinasi oleh bakteri pada susu dapat berasal dari sapi, udara, lingkungan, manusia yang bertugas, atau peralatan yang digunakan.
Susu juga bisa terkontaminasi oleh mikroorganisme penyebab penyakit menular pada manusia seperti  tuberculosis,  difteri, dan  tifus. Oleh karena itu, susu harus ditangani secara baik dan memenuhi syarat-syarat kualitas dari pemerintah. Dalam melindungi konsumen susu, pemerintah dalam hal ini Dinas Peternakan, selalu mengadakan pengawasan peredaran susu, kesehatan sapi perah dan ternak perah, petugas yang terlibat pada penanganan susu, dan bahan makanan ternak.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Gizi Susu Kuda Mendekati ASI. http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/ pda/detail.aspx?x=Nutrition&y=cybermed|0|0|6|447 [3 Februari 2010]
Blakely, J. & D.H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan (terjemahan). Edisi ke-4. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.
Siswono. 2001. Susu Kuda Liar, Apa Bedanya? http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews. cgi?newsid1005201203,16338, [3 Februari 2010]
Hermawati D. 2009. Susu Kuda dan Madu Organik. http://susukudadanmaduorganik.blogspot .com/2009/05/susu-kuda-dan-madu-organik.html [1 Desember 2009]
Hermawati D et al. 2004. Aktivitas Mikroba pada Susu Kuda Sumbawa. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan 1 (15): 47-53.
Kilgour, R. & C. Dalton. 1984. Livestock Behaviour a Practical Guide. Granada
Publishing, Great Britain.
Mansyur, U. 2006. Eksplorasi hijauan pakan kuda dan kandungan nutrisinya.
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Fakultas
Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung.
Parakkasi, A. 1986. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik. Universitas
Indonesia Press, Jakarta.